Matematika Ala Udin

Cerita Lucu Banget – Ibu guru matematika di suatu Sekolah Dasar sedang mengajar cara berhitung kepada murid-muridnya. “Kalau seandainya kalian diberi uang 50 ribu rupiah untuk belanja barang-barang berikut ke pasar, berapa sisa uang kalian?”

Lantas sang ibu guru menuliskan di papan tulis beberapa barang berikut harganya yang mesti dibeli oleh para murid.

“1 liter minyak goreng @ Rp 8000, 3 ekor ikan @Rp 6000, dan 10 buah kue lapis @Rp 1000. Serta ongkos transpor naik mikrolet pulang-pergi Rp 6000.”

Begitu membaca soal di papan tulis tersebut, para murid segera menghitung sesuai perintah ibu guru.

Tak berapa lama kemudian, ibu guru bertanya kepada satu murid yang selama ini dikenal jago matematika.

“Andi, berapa sisa uangnya sekarang setelah dibelanjakan barang-barang tersebut, dan jangan lupa kurangi juga dengan ongkos transpor ya.”
Si Andi pun menjawab, “Sisanya tinggal Rp 10rb, bu.”

“Bagus! Kamu memang anak pandai.” Puji ibu guru. Namun entah mengapa tiba-tiba pandangan ibu guru langsung tertuju pada Udin, murid yang selama ini dikenal malas belajar, dan nilai matematikanya hancur.

“Nah, kalau menurut perhitungan kamu, sisa uangnya jadi berapa, Din?”

“Uangnya masih sisa 42 ribu rupiah, bu,” jawab Udin santai.

“Lho, bagaimana bisa, Din. Belanja segitu banyak kok cuma habis Rp 8000. Coba kamu jelaskan!”

“Begini, bu,” jawab Udin. “Pertama-tama Udin pergi ke pasar naik mikrolet bayar Rp 3000. Terus sampe di pasar Udin langsung menuju toko yang menjual minyak goreng. Di sana Udin pura-pura menjatuhkan sehelai selendang ke dalam kaleng tempat stok minyak goreng. Kemudian Udin melakukan hal yang sama ke toko yang lain. Ini Udin lakukan supaya sesampainya di rumah tuh selendang kalo di peres bisa menghasilkan kira-kira satu liter minyak goreng, bu.”

Ibu guru hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Udin, yang walaupun rada ngawur tapi lumayan masuk akal juga, pikir bu guru.

“Oh ya, Udin kebetulan pergi belanja juga mengajak kucing kesayangan Udin. Si Manis namanya. Jadi pas Udin lewat depan tukang ikan, ya Udin lepas aja tuh si Manis. Trus, dia diam-diam mengambil 3 ekor ikan, dan memberikannya ke Udin yang sudah menunggu tidak jauh dari kios ikan tersebut.”

Ibu guru manggut-manggut lagi mendengar penjelasan Udin, yang walaupun rada bikin kesel tapi patut dihargai juga kreativitas berpikirnya.

“Lalu, bagaimana dengan kue lapis?” tanya ibu guru penasaran.

“Oh, kalo itu sih, Udin pura-pura menyenggol dagangan seorang ibu penjual kue lapis yang ditaruh di atas tampah. Lantas, Udin minta maaf dan mencoba menawarkan jasa baik dengan mengambil kue-kue yang sudah terjatuh di lantai dan memberi Rp 5000 kepada ibu tersebut, anggap saja sebagai rasa kasihan dan simpati Udin. Nah, setelah selesai mendapatkan semua itu, barulah Udin pulang, bu.”

“Naik mikrolet?” tanya bu guru masih diliputi rasa penasaran.

“Iya,” jawab Udin.

“Kan bayar Rp 3000, Din.” Ibu guru mengingatkan.

“Gak, bu. Udin gak bayar. Udin pura-pura nangis, terus gak lama kemudian seorang supir mikrolet menghampiri Udin dan bertanya. Trus, Udin jawab kalau Udin tersesat habis ditinggal Mama Udin dan Udin gak punya uang buat pulang.

Maka supir mikrolet itu pun kasihan sama Udin, lantas ia menyuruh Udin naik, GRATIS!” Jelas Udin dengan pede-nya. “Nah, itu sebabnya kenapa uangnya cuma terpakai Rp 8000. Jadi, sisanya Rp 42 ribu, kan?”

Ibu guru,”????!!!!@@@@”