Nenek Juga Sama

Cerita Lucu Banget – Fino melakukan perjalanan menuruni gunung Lawu bersama 2 teman sekolahnya setelah puas berkemah di puncak.

Akibat rute perjalanan menjadi licin terkena air hujan, mereka menjadi terlambat dan sinar matahari semakin lama makin menghilang.

Dengan sangat terpaksa perjalanan mereka tetap harus dilakukan walaupun sebenernya mereka merasa merinding karena mereka belum melewati kawasan yang paling seram.

“Makin lama kok makin dingin ya?”, kata Fino dengan suara lirih kepada 2 temannya.

“Iyaa…ta.taa..pi itu apa ?”, kata Yudi sambil mengarahkan lampu senternya ke arah yang dimaksudkan.

Dan tiba-tiba mereka bertiga menjerit.

“Aaaaaaahhhh….”, jerit mereka bertiga.

Ternyata seorang nenek yang berpakaian serba hitam dan kumal menoleh ke mereka bertiga.

“Mata nenek silau, nak”, kata si nenek silau terkena lampu senter.

Setelah ngobrol, akhirnya mereka bertiga mengikuti ajakan si nenek untuk berteduh di pondok si nenek sambil menunggu hujan reda.

Pada saat si nenek menyalakan penerangan di pondoknya, Fino dan temannya kaget setelah melihat si nenek. Si nenek ini wajahnya sudah tua, jelek, menakutkan dan mulut mengeluarkan air liur terus-terusan sambil menginang.

Kemudian si nenek sibuk memasak air di belakang dan tak lama kemudian keluar sambil membawa 3 cangkir keramik tua.

“Sebentar yaah nenek buatkan teh biar tubuh cucu lebih hangat”, kata nenek meletakkan 3 cangkir yang warnanya sudah kusam itu di atas meja.

Setelah si nenek kembali ke belakang, mereka bertiga rupanya memiliki pemikiran yang sama tentang 3 cangkir itu yakni mereka bertiga merasa jijik dengan 3 cangkir yang pastinya kotor sekali karena kondisi pondok si nenek ini juga sangat jorok sekali.

“Bagaimana kalau cangkirnya di cuci dulu pakai tanah dan air hujan di luar” kata Fino.

“Iya, cepetan yuk” kata Yudi.

Mereka bertiga duduk dengan tenang saat si nenek datang membawa poci berisi teh hangat.

“Naah.. ini tehnya, mumpung masih hangat segera di minum, nenek tinggal ke belakang yaa nenek minum jamu saja di belakang” kata nenek.

“Terima kasih, nek”, kata Fino.

“Tapi aku masih merasa jijik kalau minum pakai cangkir ini. Cangkir ini khan bekas bibirnya si nenek. Lihat nggak tadi, air liurnya si nenek yang berwarna merah sambil menginang ?” kata Fino.

“Iyaa yah….Begini saja, bagaimana kalau meminumnya di sebelah sini aja”, kata Yudi sambil menunjuk bibir cangkir yang berada di atasnya pegangan cangkir.

“Iya… si nenek pastinya gak pernah minum di bibir cangkir sebelah ini. Bagus ide kamu, Yud”, kata Fino.

Mereka bertiga senang bisa minum teh hangat dengan cara meminum dengan cara seperti itu dan tiba-tiba si nenek datang dengan membawa gelas berisi jamu.

“eeeeeh….nenek juga sama seperti itu!”, kata nenek.

“Apanya yang sama, nek?” kata Fino.

“Caranya minumnya sama” kata si nenek.

Gleeek!!!!#$@%@#

Mereka bertiga hanya terdiam dan sepertinya ada yang ingin keluar dari dalam perut mereka masing-masing.